Project Membuat Taman 3D

ZIADATULRISKY

 Laporan Project Modelling 3D: Pembuatan Taman 3D Menggunakan Blender

Project pembuatan taman 3D ini merupakan tugas akhir mata pelajaran Modelling yang diampu oleh Bapak Hasyanal Faukhanuri. Sebagai siswa kelas 11 jurusan Animasi di SMK Negeri 2 Pariaman, project ini menjadi tantangan tersendiri karena menuntut pemahaman yang matang terhadap prinsip-prinsip dasar pemodelan 3D. Mulai dari pemilihan referensi visual, pembuatan objek hard surface seperti bangku dan lampu taman, hingga objek organik seperti pepohonan dan semak-semak. Proses ini dilakukan menggunakan perangkat lunak Blender, yang memang menjadi andalan dalam industri animasi saat ini. Project ini tidak hanya menguji keterampilan teknis, tetapi juga melatih kepekaan estetika dan komposisi ruang dalam lingkungan tiga dimensi.

Tahap awal pengerjaan dimulai dengan riset visual dan pembuatan konsep taman yang ingin diwujudkan. Saya memutuskan untuk membuat taman bergaya Eropa klasik dengan dominasi warna hijau dan sentuhan elemen arsitektur seperti pagar besi, kursi taman, dan air mancur kecil. Proses modelling dilakukan secara bertahap, dimulai dari pembuatan landasan menggunakan metode plane yang kemudian diekstrusi, dilanjutkan dengan pembuatan objek-objek pendukung. Teknik yang digunakan bervariasi, seperti extrudebevel, dan loop cut untuk objek geometris, serta proportional editing untuk membentuk objek organik seperti pohon dan bunga. Seluruh proses dilakukan dengan memperhatikan efisiensi jumlah vertex agar tidak membebani sistem saat proses rendering nantinya.

Setelah seluruh objek selesai dimodelkan, tahap berikutnya adalah pemberian tekstur dan pencahayaan. Tekstur kayu, besi, dan dedaunan diaplikasikan menggunakan shader editor dengan memadukan diffuseroughness, dan normal map agar hasil akhir tampak realistis. Pencahayaan menggunakan kombinasi sun light dan area light untuk menciptakan suasana taman yang hangat dan alami. Proses ini merupakan salah satu bagian tersulit karena harus mencapai keseimbangan antara cahaya dan bayangan tanpa membuat objek terlihat terlalu kontras atau justru datar. Di sinilah peran Bapak Hasyanal sangat membantu, memberikan arahan teknis tentang komposisi warna dan intensitas lampu agar hasil akhir lebih dramatis namun tetap natural.

Secara keseluruhan, project ini memberikan pengalaman berharga dalam memahami alur kerja produksi aset 3D, dari konsep hingga rendering akhir. Saya menyadari bahwa kesabaran dan ketelitian adalah kunci utama dalam modelling, terutama ketika menghadapi kendala seperti geometry yang tidak rapi atau texture yang gagal render. Ke depan, saya berencana untuk terus mengasah kemampuan ini, khususnya dalam hal lighting dan rendering realistis menggunakan engine Cycles. Project taman 3D ini tidak hanya menjadi tugas akademik semata, tetapi juga menjadi bekal portofolio untuk memasuki dunia industri animasi yang semakin kompetitif.