Nama : Melani
Kelas : XI (Sebelas)
Jurusan : Animasi
Sekolah : SMK Negeri 2 Pariaman
Mata Pelajaran : Animasi Modeling
Guru Pengampu : Bapak Hasyanal Faukhanuri
NARASI LAPORAN PROJECT MEMBUAT TOPOLOGI 3D
Paragraf 1 (Pendahuluan dan Latar Belakang) Saya, Melani, siswa kelas 11 jurusan Animasi di SMK Negeri 2 Pariaman, telah melaksanakan project pembuatan topologi 3D pada mata pelajaran Animasi Modeling yang diampu oleh Bapak Hasyanal Faukhanuri. Project ini bertujuan untuk memahami dan mempraktikkan alur edge (edge flow) yang baik dan benar pada model tiga dimensi, terutama untuk keperluan animasi. Topologi yang rapi sangat penting agar model dapat bergerak (rigging dan animasi) tanpa mengalami cacat seperti penyok, robek, atau deformasi yang tidak diinginkan. Pada project ini, saya membuat model sederhana berupa kepala karakter manusia atau kartun, dengan fokus utama pada pola quad (segi empat) yang teratur di area-area kritis seperti sekitar mata, hidung, mulut, dan sendi. Bapak Hasyanal menekankan bahwa topologi yang baik adalah fondasi dari karakter yang siap dianimasikan.
Paragraf 2 (Proses Pembuatan Topologi) Proses pengerjaan saya mulai dengan membuat mesh dasar berbentuk bola atau kubus yang kemudian saya subdivide beberapa kali. Selanjutnya, secara perlahan saya membentuk wajah dengan cara menarik (extrude), memutar (rotate), dan menggeser (move) vertex-vertex sesuai dengan proporsi wajah. Fokus utama saya adalah menciptakan lingkaran edge (edge loop) di sekitar area mata dan mulut, karena kedua area ini akan banyak bergerak saat karakter berbicara atau berekspresi. Saya juga memastikan bahwa seluruh mesh terdiri dari polygon berbentuk quad (segi empat), bukan segitiga (tri) atau poligon dengan lima sisi ke atas (n-gon), karena quad menghasilkan deformasi yang paling halus saat dianimasikan. Bapak Hasyanal secara intensif membimbing saya dalam memperbaiki pole (titik pertemuan lima edge) yang salah tempat dan mengarahkan aliran edge agar mengikuti kontur otot wajah.
Paragraf 3 (Tantangan dan Evaluasi Topologi) Tantangan terbesar dalam project ini adalah membiasakan diri untuk tidak menambahkan vertex secara sembarangan, karena setiap vertex baru harus terhubung dalam pola yang logis dan bersih. Saya beberapa kali harus mengulang bagian rahang dan pipi karena edge loop yang saya buat ternyata tidak mengalir dengan baik saat diuji dengan simulasi gerakan sederhana. Bapak Hasyanal mengajarkan saya menggunakan fitur wireframe view dan X-ray mode untuk memeriksa kerapian topologi dari berbagai sudut. Saya juga belajar tentang pentingnya kepadatan mesh yang seragam—tidak terlalu rapat di satu area dan terlalu renggang di area lain—agar deformasi saat animasi merata. Setelah beberapa kali revisi, saya berhasil menciptakan topologi kepala yang cukup rapi dengan edge loop melingkar sempurna di sekitar mata dan mulut.
Paragraf 4 (Kesimpulan dan Ucapan Terima Kasih) Dengan terselesaikannya project topologi 3D ini, saya mendapatkan pemahaman mendalam bahwa modeling bukan sekadar membuat bentuk yang indah secara visual, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek teknis untuk keperluan animasi. Topologi yang rapi adalah investasi jangka panjang karena akan mempermudah proses rigging, skinning, dan animasi di kemudian hari. Saya kini mampu membedakan mana model yang hanya bagus diam (static) dan mana yang siap bergerak (deformable). Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Hasyanal Faukhanuri yang telah sabar mengajarkan konsep-konsep sulit ini dengan cara yang mudah dipahami, serta terus mendorong saya untuk tidak puas dengan hasil yang kurang sempurna. Semoga laporan ini bermanfaat dan menjadi bukti bahwa siswa SMK Negeri 2 Pariaman mampu menguasai aspek fundamental animasi 3D seperti topologi dengan baik.
